Setelah kita mampir di Bosscha, kurang lengkap rasanya kl jalan-jalan tanpa kuliner, mari kita tancap gas menuju kampung daun, tempat kuliner yang sudah terkenal di kota Bandung karena tempatnya yang cozy banget, mengambil sebuah konsep pedesaanyang tenang dan menyegarkan dengan tambahan berbagai ornamen yang menciptakan suasana tradisional, Kampung Daun juga menyediakan berbagai makanan tradisonal khas Indonesia juga makanan modern dari negara lain.

      Kampung Daun terletak di daerah Cihideung, di Jl. Sersan Bajuri. Jika Anda menuju Lembang, Anda akan menemukan Terminal Ledeng. Kira-kira di seberang terminal ini, Anda dapat berbelok ke arah kiri untuk menuju Jalan Sersan Bajuri. Jalanan menanjak dan kecil harus dilewati. Anda akan melewati tempat-tempat yang sudah cukup dikenal dan sering dikunjungi di Bandung seperti The Peak, Sapu Lidi dan Kampung Gajah. Kampung Daun sendiri berada di dalam kompleks perumahan yang tergolong mewah. Anda jadi dapat membayangkan nyamannya tinggal di rumah-rumah tersebut. Sepanjang jalan menuju Kampung Daun, lampu-lampu obor di sisi jalan perumahan ini akan menjadi penunjuk jalan. Saat di perjalanan hujan turun lebat, tapi tidak menyurutkan semngat kita untuk tetap melaju walaupun bapak ojek cuma bawa 1 jas ujan saja,walhasil saya berlindung dibelakang,ciieeee...romantis...hahaha...


Latar Kampung Daun





     Akhirnya sampai juga,sebelum memasuki area Kampung Daun, Anda dapat memesan tempat terlebih dahulu. Pada sisi kiri sebelum Anda masuk, pelayan akan menanyakan jumlah orang yang akan masuk. Selanjutnya, mereka akan menghubungi pelayan lainnya yang ada di dalam dan Anda akan diberi nomor saung tempat Anda dapat bersantap. Saung yang diberikan biasanya berdasarkan jumlah orang karena ukuran saung yang berbeda sehingga kapasitas yang ditampung juga berbeda. Ketika itu kita dapat nomer antrian 10, wooooww...lama banget ya.. kita pun berjalan jalan di area kampung daun. 

     
     Di bagian depan Kampung Daun, Anda dapat melihat aneka dagangan tempo dulu yang mungkin sering berkeliling di rumah Anda. Misalnya, ada pedagang gulali, dodol, dan kue-kue tradisional, saya membeli kue pancong kalau di surabaya namanya kue rangin. Memasuki Kampung Daun di malam hari, suasana romantis semakin kental. Lampu kuning menyala di sisi-sisi jalan diantara kegelapan malam, jalanan setapak sedikit berkelok dari batu-batu dan saung panggung dari bambu diantara pepohonan. Di saung-saung inilah Anda dapat menikmati makanan dengan suasana santai, Anda akan bersantap secara lesehan. Pada bagian depan saung, terdapat kentongan yang biasa ada di pos ronda di pedesaan. Sisi-sisinya ditutupi dengan tirai putih yang diikat pada tiang-tiang bambu. Dengan atap jerami, saung semakin menyatu dengan suasana pedesaan yang ingin ditampilkan.
  
    Setelah puas berkeliling kita balik lagi ke bagian depan tempat reservasi tadi, trnyta harus menunggu sekitar 3 antrian lagi, karena waktu sudah mulai malam,dan kita juga harus balik lagi ke penginapan akhirnya kita memutuskan untuk membatalkan acara kuliner disana. Yup, kita pun kembali ke parkiran tempat bapak ojek menunggu, disana kita makan kue rangin itu bersama-sama untuk mengganjal perut yang sudah keroncongan dari tadi. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju terminal ledeng. Sesampainya di terminal ledeng kita naik angkot lagi jurusan terminal stasiun Bandung. Perjalanan menuju penginapan lumayan lama karena jalan macet dan juga hujan tak kunjung berhenti. Setelah tiba di terminal kita jalan kaki lagi menuju penginapan, suasana jalan pun sedikit lengang karena hujan, sesampainya di penginapan kita langsung cari makan,ternyta ada penjual nasi goreng yang mangkal, kami pun makan dengan lahap,setelah itu kita mandi,sholat,kemudian tidur agar tidak telambat bangun menuju surabaya kembali.

   Kita bangun jam 04.30 shubuh kemudian mandi, sarapan pagi setelah itu langsung menuju stasiun bandung karena jadwal kereta jam 08.00 WIB , saat itu kita naik kereta argo wilis karena sebelum berangkat ke Bandung kita telah kehabisan kreta ekonomi dan bisnis, akhirnya kita naik eksekutif. 


    Kereta api berangkat jam 08.00, perjalanan menuju surabaya dimulai...Selamat tinggal Bandung...semoga dapat singgah lagi dikota kembang ini :)


       Kemarin perjalanan kita masih sampe Tangkuban Perahu ya, ok...yuk ah para backpacker mari kita lanjut lagi yang ceritanya.. 

       Setelah kita memutuskan untuk menyudahi perjalanan di Tangkuban Perahu, turun lanjut perjalanan ke bosscha dengan menggunakan angkutan yang tadi, sampai di tempat pertama kali kita naik tadi, eh...tuh bapak sopir angkot malah nurunin kita, lalu menyuruh kita naik angkot yang ke arah lembang, sedikit rada' kesel juga sih karena gak sesuai dengan perjanjian awal karena kita telah membayar lunas ongkosnya, untungnya kita di oper angkot tidak bayar lagi. Tapi, lagi-lagi terulang kejadian yang sama, sopir angkotnya yg baru juga tidak mau mengantar kita ke Bosscha dengan alasan jalannya gak bisa dilalui oleh mobil harus dengan ojek...yaaa,,akhirnya kita pasrah saja turun lalu mencari tukang ojek. Kebetulan ada 2 tukang ojek yang menawarkan, setelah nego dengan ongkos Rp. 25.000,-/orang kami pun langsung tancap gas menuju lokasi.

     Dalam perjalanan kami, saya banyak bercerita dengan bapak ojek itu, ya sekalian melatih bahasa Sunda karena dulu saya juga sempat tinggal di bandung mulai umur 5 thn sampai SD, bapak itu juga bercerita kalau jalan menuju Bosscha sudah mulai rusak karena menurut cerita tanah tersebut masih sengketa jadi tidak diperbaiki juga jalannya.Tak terasa sudah sampai di bosscha, dan ternyata kami tidak tahu kl hari minggu tutup.
   
          Observatorium Bosscha menawarkan dua jenis kunjungan, yakni kunjungan siang dan malam. Kunjungan siang dibuka sepanjang tahun kecuali hari Minggu, hari Senin, hari libur nasional, tanggal 30 Desember sampai 5 Januari, dan dua minggu di sekitar hari raya Idul Fitri. Di siang hari, kamu bisa memilih waktu kunjungan, apakah jam 9.00 pagi, 12.00 siang (khusus hari Jumat jam 13.00 karena memberi waktu ibadah bagi ummat Islam) atau jam 15.00 sore. Lamanya berkunjung hanya satu jam. Di sana, kamu akan diberi penjelasan tentang teleskop Zeiss dan presentasi astronomi.





Berikut Jadwal Kunjungan Siang : 
        Pada  kunjungan siang pengunjung dapat melihat cara kerja teleskop Zeiss (tidak meneropong) dan mendapat informasi astronomi di ruang multimedia. Biaya tiket masuknya Rp. 15.000,-/orang



          
       untuk kunjungan malam, hanya dibuka beberapa malam di musim kemarau (april - oktober) jika langit cerah pengunjung dapat meneropong langsung dengan menggunakan teleskop portable dan teleskop bamberg, jika cuaca tidak mendukung acara tetap berjalan tanpa peneropongan, mulai jam 17.00 - 20.00 WIB, tiket masuk untuk kunjungan malam sebesar Rp. 20.000,-/orang

        Nah, setelah  kita masuk mendapat informasi dari petugas, dan juga dapat berfoto2 walapun gak bisa masuk kedalam tapi kami cukup puas, akhirnya kita pulang dengan agak sedikit kecewa, tapi karena melihat kita sedikit kecewa pak ojek itu berbaik hati mengajak kita untuk kuliner di kampung daun, ya dengan tambahan ongkos ojek juga sih, sekitar Rp. 25.000,- di ajak berkeliling sekitar daerah lembang dan bapak ojek itu menunggu kita berfoto2 dengan sabar...hehehehe....

        ok, kita lanjutkan perjalanan kuliner menuju KAMPUNG DAUN....


       Pagii...Backpacker...setelah kemarin seharian jalan-jalan di daerah Bandung selatan, saatnya kita berpetualang ke daerah Bandung utara. Awalnya sih masih bingung rute kemana lagi, soalnya kita memang belum menyiapkan lokasi wisata yang akan dikunjungi,dan akhirnya setelah agak lama browsing akhirnya kita memutuskan ke Tangkuban Perahu. Yupss...tujuan kita kali ini adalah ke Tangkuban Perahu, memang kalu dari kejauhan gunung cantik ini mirip dengan perahu terbalik. Lokasinya sangat mudah dijangkau, dari kota bandung sekitar 7 km menuju arah lembang.

Kawah Ratu - Tangkuban Perahu


       Seperti biasa, dari penginapan kita jalan kaki sampai terminal belakang stasiun bandung, setelah itu kita naik angkot sejenis elf jurusan subang, saat itu tarif angkutannya masih Rp.15.000,-/orang, cukup lama juga kita menunggu angkotnya sampai penuh, ya maklum lah namnya nyari penumpang, skitar 20 menit kita menunggu akhirnya jalan juga... Perjalanan waktu itu sekitar 1,5jam dan kebetulan sih gak begitu macet. Hawa sejuk lembang mulai terasa, ya maklum lah sudah masuk daerah puncak, cukup lama juga sampai membuat kita mengantuk, nah pas di Cikole, atau titik puncak pass antara perbatasan Bandung – Subang ada arah ke kekiri menuju Tangkuban Perahu.   

         Setelah turun dari angkot, kita ditawari jasa angkutan lagi menuju tangkuban perahu, karena bapak itu bilang gak da angkutan lagi selain ini, akhirnya kita meng-iya kan karena supirnya bilang bisa sekalian ke Bosscha. Setelah kita naik ada ibu2 masuk angkutan kami juga, ternyata si ibu tadi adala guide yang akan memandu kita ke kawah domas dan kawah upas, tetapi kita harus bayar lagi sekitar Rp.150.000,-/orang, untuk wisatawan asing sekitar Rp.300.000-500.00,-/orang, cukup mahal bukan? ya, akhirnya saya dan teman saya memutuskan tidak pakai guide, tetapi si ibu tadi tetap mengikuti kita terus dan memaksa, akhirnya kita pura2 ke kamar mandi agar si ibu tersebut pergi,hehehe.. 

        Walaupun kita memutuskan untuk tidak mampir ke kawah domas dan upas,kita cukup menikmatinya dengan berfoto2 disana sambil makan bakso harga bakso disana 1 porsi cuma Rp.8.000,- saja, cukup murah bukan untuk kawasan tempat wisata,ada juga Uli bakar. Karena udara yg cukup dingin memang paling nikmat memanjakan perut.





     Sayangnya kabut mulai turun ,jadi kami tidak bisa menikmati pemndangan, tak lama setelah itu hujan pun turun,akhirnya kita memutuskan untuk menyudahi perjalanan karena masih ada tujuan lain yang ingin kita kunjungi,kami pun menelpon pak supir angkot tadi untuk menjemput kita dan mengantar ke rute selanjutnya..

   Ok, ikutin trip kita selanjutnya PETUALANGAN KE BOSSCHA
     Haiiii backpacker...kita lanjut cerita kemarin yuk !!! langsung aja ya..

Lokasi BATU CINTA

Panorama Situ Patengan / Patenggang

        Setelah puas jalan jalan di kawah putih, kami pun lanjut perjalanan ke situ patengan atau situ patenggang naik angkutan yang kita carter tadi. 

        Terletak di ketinggian 1600 meter di atas permukaan laut, danau ini memiliki pemandangan yang sangat eksotik. Situ patenggang juga memiliki pemandangan alam yang asri, karena disekitarnya terdapat hamparan kebun teh. Berdasarkan informasi yang tertera di lokasi wisata, situ Patenggang berasal dari bahasa Sunda, pateangan-teangan (saling mencari). Mengisahkan cinta Putra Prabu dan Putri titisan Dewi yang besar bersama alam, yaitu ki Santang dan Dewi Rengganis. Mereka berpisah untuk sekian lamanya. Karena cintanya yang begitu mendalam, mereka saling mencari dan akhirnya bertemu di sebuah tempat yang sampai sekarang dinamakan "Batu Cinta". Dewi Rengganispun minta dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar bersama. Perahu inilah yang sampai sekarang menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati (Pulau Asmara /Pulau Sasaka). Menurut cerita ini, yang singgah di batu cinta dan mengelilingi pulau asmara, senantiasa mendapat cinta yang abadi seperti mereka.Berhubung saya pergi dengan teman cewek, jadi cintanya gak abadi...hahahahaa
   
     Sebelum kita sampai di batu cinta, kita harus menyebrangi danau terlebih dahulu dengan menggunakan perahu, tiket masuknyanya waktu itu masih Rp.6.000,-/orang, sedangkan untuk sewa perahu, untuk sewa perahunya sendiri sekitar Rp.20.000,-/orang setelah nego. 

           Yup, kita langsung naik perahu menuju lokasi batu cinta, menikmati semilir angin serta pemandangan yang asri saat naik perahu, untuk sampai di lokasi batu cinta tidak memerlukan waktu yang lama, skitar 15 menit kita sudah sampai.
Kisah BATU CINTA



       Anda dapat membaca kisah dari batu cinta tersebut di sebuah lukisan batu dengan panorama. dari kutipan tersebut menceritakan dua insan yang telah lama berpisah "Ki Santang dan Dewi Rengganis" karena asmaranya yang begitu dalam, akhirnya mereka dipertemukan kembali di sebuah tempat yang disebut BATU CINTA, batu inilah yang menjadi saksi bisu pertemuan mereka.

BATU CINTA SITU PATENGAN
   Nah, karena hari semakin gelap dan kita harus kembali lagi ke penginapan, maka saatnya saya dan teman saya mengakhiri petualangan di ciwidey,bandung selatan. Kita naik angkutan tadi sampai terminal cibereum, setelah itu kita naik bis mini sampai ke terminal belakang stasiun hall, setelah itu kita jalan kaki sampai penginpan yang gak begitu jauh dari terminal tersebut. Sampai di penginapan kita langsung mandi, makan lalu istirahat untuk menyiapkan tenaga jalan lagi besok ke daerah bandung utara, tunggu lanjutan ceritanya ya... :)

      Hai Backpacker...kali ini saya akan menceritakan pengalaman backpacker saya ke bandung,
yups...pengalaman pribadi yang menurut saya paling mengesankan, karena untuk pertama kalinya saya dan teman saya nekat kesana karena kita sebelumnya belum tau medan nya..hehehee.. ok, kita langsung aja yuk mulai ceritanya...
Kawah Putih Surga Dunia Jawa Barat

      Kejadiannya 2 tahun lalu tepatnya bulan september th 2013, kita berkumpul di stasiun Gubeng Surabaya lama karena kita akan naik kereta ekonomi PASUNDAN, ya maklum lah namanya juga backpacker jadi kita nyari tiket yang murah, saat itu harga tiketnya masih Rp.55.000,- harga yang cukup terjangkau bagi seorang backpacker ya?hehehe....Tepat pk. 08.00 WIB kereta api berangkat, kami sangat menikmati perjalanan ini karena sudah lama banget gk naik kereta, kereta api ekonomi sekarang sudah dilengkapi fasilitas AC dan colokkan listrik. 

     Kita sangat menikmati perjalanan,gk sedikit pun terlewatkan, hamparan sawah yang hijau serta gunung, Subhanallah sungguh indah ciptaan Allah. Hawa dingin kota bandung mulai merasuk sampai ketulang, sekitar pk.22.30 WIB kita sampai di stasiun Kiaracondong, yah lumayan telat dari jadwal yang tertera di tiket kereta. Sesampainya disana, kita dijemput oleh travel dari penginapan karena memang sudah larut dan kita cewek2 jadinya memilih jasa antar jemput. Waktu itu harga jasa jemputannya Rp. 45.000,-/orang.

    Akhirnya kita tiba juga di penginapan yang tidak jauh dari stasiun kiaracondong, sekitar 15 menit. Kita menginap di Unique Gusethouse, tempatnya cukup nyaman, langsung saja kita check-in dan hanya memesan 1 kamar dengan fasilitas : Extra Bed, TV, Kipas Angin, Kamar mandi luar, sarapan pagi  dengan biaya kurang lebih Rp. 350.000,-/org selama 4 hari 3 mlm, itu udh dapet diskon karena udh nego sebelumnya by phone...heheehehe. Setelah mandi kami akhirnya istirahat karena lumayan capek jg.

        Matahari telah bersinar, hoooaaammm...masih ngantuk sebenarnya, tp namanya mw jalan2 jadi semangat bangun, mandi dan juga sarapan, tapi kita masih bingung mau jalan kemana, akhirnya setelah kita browsing kita memutuskan untuk ke kawah putih.cuusss... langsung bergegas untuk turun, belum sampai keluar kita ditanya oleh petugas penginapan.
   "Mau kemana mbak?" saya pun menjawab "mau ke kawah putih pak,naik angkot apa ya kl dari sini?"  si bapak pun menjelaskan: "keluar dulu ke depan jalan raya, trus nyebrang,nnti coba tnya saja,soalnya saya kurang hafal angkotnya. Lalu si bapak tadi juga menawarkan paket wisata kawah putih dan tangkuban perahu, tp kami tidak tertarik karena niat kami memang untuk backpacker, selain itu dari segi biaya jadi lebih murah. Setelah kita berjalan dan bertanya dari beberapa orang, akhirnya kita menemukan angkot juga, yuppss..angkot dari penginapan menuju terminal leuwi panjang, setibanya di terminal leuwi panjang kita naik mini bus (sejenis elf) menuju terminal cibeureum, ciwidey dengan tarif Rp. 6.000,-, setelah tiba di terminal cibeureum saya bersama teman ditawari oleh angkutan dengan sistem carter dengan sewa Rp. 60.000/ orang, dengan rute kawah putih-situ patenggang - kebun strawberry selain kita ada juga 2 ibu2 dengan tujuan  sama, akhirnya kita naik angkot carteran tersebut.

      Disepanjang perjalanan menuju kawah, kita akan disuguhi pemandangan kebun2 strawberry serta suasana pedesaan yang masih asri bebas dari polusi seperti di surabaya.owya, biaya yang tadi itu itu sudah termasuk tiket masuk kawah serta rute ke situ patengan jadi kita gak perlu lagi naik ontang anting lagi.

        eengg in engg...akhirnya sampai juga di kawah putih.. tidak jauh dari pintu masuk kita masih menuruni anak tangga lagi baru bisa sampai di kawahnya. Pertama kali lihat...Subhanallah...Amazing banget, ini sungguh ciptaan Allah yang sangat luar biasa keindahannya...cuuss, langsung kita gak lupa photo2 disana, owya..kl disana harus bawa masker ya, soalnya bau belerangnya menyengat banget, dan para pengunjung pun tidak diperbolehkan lama2 disana.








 

    Setelah puas foto2 dan menikmati pemandangannya, akhirnya kita sudahi perjalanan di kawah putih karena kabutnya pun juga sudah mulai turun. lnjut perjalanan ke Situ Patengan...ikuti terus perjalanan kita selama di bandung ya guys...see you :)

lanjut ke -> BATU CINTA SITU PATENGGANG